KH Birth by Sleep: Dark Memory Part 3

Ini part ketiga terjemahan novel KH Birth by Sleep.Tinggal sedikit lagi selesai deh terjemahannya! Yosha!

Ahh…Vanitas, hontou ni kakkoi~! 😄

Vanitas menyeringai dengan wajah anak lelaki itu dan sedikit tertawa. Sekitar waktu fajar, Xehanort kembali ke tanah tandus bersama Ventus. Sinar matahari terbit menyinari Ventus selagi dia berjalan, tapi dia melihat kejauhan, kosong.

“Apa? Kau membawanya kembali?”

Vanitas tersenyum, ia terbangun dari tanah tempatnya beristirahat untuk menatap mata Ventus. Begitu mata mereka bertemu, Ventus berjalan mundur ketakutan dan meringkuk.

“Kenapa kamu melakukannya?”

Ditendang oleh Vanitas, Ventus merintih dan jatuh ke tanah. Meskipun dia seharusnya sudah mendapatkan kembali hatinya, keadaannya masih menyedihkan seperti sebelumnya. Vanitas memandangnya, selagi Ventus melengkuh di lantai, mengerang.

Aku membencimu.

Aku benci Ventus. Tapi aku tidak tahu kenapa. Dan begitu dia merasa seperti ini, Unversed baru terlahir dari tubuh Vanitas.

“Oohh! Apa ini?” Xehanort bertanya, melihat ke arah Unversed tersebut.

“Unversed. Monster yang lahir dari pecahan emosiku.”

“Mengagumkan.”

Dia tidak mengerti apa yang “mengagumkan” dari itu.

Aku kesal.

“Jangan bertindak sembrono, Vanitas.” Xehanort membantu Ventus berdiri. Ada kilauan tipis di mata orang tua itu.

“Sembrono? Yang benar saja. Dia itu aku. Kupikir Unversed lah yang kau pikir “mengagumkan”, kenapa kau tidak membiarkannya tidur?”

“Situasi telah berubah. Sepertinya Ventus tidak serapuh seperti yang kukira.”

“Dia menyedihkan,” Vanitas membalas. Sepertinya Xehanort tidak tahu bahwa Ventus diselamatkan oleh pihak luar, bahwa seseorang mengisi kekosongan di hati Ventus. Tapi Xehanort langsung berasumsi Ventus tidak lemah. Dan itu mengesalkanku.

Aku tidak mengerti. Dia belahan jiwaku. Kenapa aku sangat membencinya?

“Dia akan menjadi pengganggu. Aku harus menghabisinya,” Ujar Vanitas dan ia mengeluarkan Keyblade-nya.

“Tunggu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu kalau kau membunuhnya sekarang.”

“Lalu? Yang pasti kau tidak bisa membiarkannya bersamaku. Aku tidak bisa janji aku tidak akan menghabisinya suatu hari nanti kalau kau melakukannya.”

Keyblade berisitirahat di tangannya, Vanitas dengan benci menatap Ventus.

“Kalau begitu, aku tahu tempat yang cocok untuknya.”

“Kau membawanya lagi ke suatu tempat? Kau sepertinya sangat peduli pada orang itu, ya?” Vanitas tertawa.

“Aku membutuhkanmu dan Ventus hidup demi rencanaku.”

“Rencana, ya?”

Akhirnya menuruti larangan tersebut, Vanitas menyimpan Keyblade-nya dan menatap Xehanort. Aku tidak peduli apa yang Xehanort bermaksud untuk menguntungkannya dari menggunakan kami dalam rencananya. Ingatan yang ditinggalkan Ventus dalam diriku mengatakan Ventus selalu sangat menghormati Xehanort sebagai gurunya. Tapi aku merasa berbeda tentang dia.

“Lakukan sesukamu, Master,” Ujar Vanitas dan memunggungi Xehanort dan Ventus, mulai berjalan menjauh.

“Kau mau kemana?”

“Untuk menenangkan diri. Aku tidak bisa mendapatkannya di dunia ini.”

Dan tepat di belakang Vanitas, terlihat seperti kawanannya, Unversed mengikutinya. Bagaimana caranya aku meringankan kekesalanku? Dan kenapa aku lahir? Vanitas menggertakan giginya dan mengerut. Apakah aku akan menemukan jawaban dari pertanyaanku?

Untuk memberikan Ventus, yang hatinya telah terkoyak, istirahat yang tenang, aku membawanya ke rumah lamaku, pantai  yang darimana aku memutuskan untuk melakukan perjalanan, Destiny Island.

 

Aku tidak tahu mengapa aku langsung memikirkan tempat ini. Aku bahkan tidak sekalipun kembali ke sana sejak aku pergi, namun tidak ada yang berubah, bahkan suara ombak sekalipun.

Sebuah dunia, di mana hanya suara ombak memecah keheningan.

Di tempat seperti ini, kupikir, Ventus akan mampu beristirahat dengan damai.

Tapi Ventus yang tertidur, yang aku percaya tidak akan pernah membuka matanya lagi, mengulurkan tangannya ke langit dan memanggil Keyblade-nya.

Sekarang mungkin bagiku untuk menciptakan Χ-Blade dengan meningkatkan hati cahaya Ventus dan hati kegelapan Vanitas menjadi kekuatan dan kemudian membiarkan mereka bertempur.

Tapi begitu aku kembali ke tanah tandus dan membawanya bertemu muka dengan Vanitas, Ventus sekali lagi kehilangan kesadaran. Tampaknya kegelapan Vanitas terlalu kuat untuk Ventus untuk bertahan dibesarkan di tempat yang sama seperti dia.

Ini adalah masalah yang belum bisa kupecahkan.

Aku harus membiarkan Ventus dibesarkan di tempat yang berbeda.

Hanya ada satu tempat yang memadai untuk meningkatkan hati cahaya, dan tempat ini adalah di bawah pengawasan mantan temanku dan Keyblade Master, Eraqus, yang percaya cahaya adalah hal yang mutlak.

Ini adalah ketika Xehanort membawa Ventus ke tempat di mana ia dulunya belajar dan berlatih dan menatap kastil yang dibangun di sana. Itu adalah tempat yang khusus, yang telah dilindungi oleh banyak generasi Keyblade Master. Di sinilah ia tahu ia akan menemukan teman yang dulu pernah belajar bersamanya dan berbagi pengetahuan. Tempat ini juga belum dikunjungi oleh Xehanort sejak ia pertama kali meninggalkannya. Ia punya alasan. Dia bahkan tidak tahu sudah berapa tahun sejak ia meninggalkan tempat kelahirannya. Dia bertanya-tanya apakah itu mungkin telah dimaksudkan untuknya sejak awal untuk melakukan perjalanannya dan bertemu Ventus. Tapi sekarang, Ventus masih belum sepenuhnya sadar, bahkan hanya datang ke tempat ini hanya memungkinkan baginya dengan menuruti perintah Xehanort begitu saja.

“Mari kita pergi,” katanya kepada Ventus, dan tidak menerima jawaban. Namun, ia mulai berjalan dan mengikuti setelah Xehanort. Xehanort membuka pintu menuju ke gedung. Sama seperti dia tahu bahwa dia akan dikunjungi, Eraqus berdiri di atas tangga di ujung lorong pintu masuk dan melihat ke bawah.

“Xehanort…”

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s