KH Birth by Sleep Novel: Dark Memory Part 1

Ini terjemahan Indonesia chapter special dari novel Kingdom Hearts Birth by Sleep. Aku cari-cari di internet terjemahan Indonesia belum ada, baru ada yang bahasa Inggris. Jadi aku coba terjemahin terus post di sini, deh! Sekalian isi blog yang masih baru. Hehehe…XD

Birth by Sleep vol. 3 - To the Future
Cover Novel KH Birth by Sleep Vol. 3

Mungkin fans Kingdom Hearts udah tahu novel ini, tapi buat yang belum baca kukasih tahu sedikit. Chapter ini chapter spesial di novel volume ketiga KH tentang masa lalu Vanitas sebelum cerita di game dimulai. Kalau baca cerita ini pokoknya bisa lebih mengerti karakter Vanitas!

Vanitas
Vanitas

Chapter ini wajib dibaca khususnya buat fans Vanitas! Aku sendiri juga fans beratnya. Sejauh ini dia tokoh antagonis favorit nomor 1-ku di Kingdom Hearts. Selengkapnya, silakan baca ceritanya sendiri~

~ Kingdom Hearts Birth by Sleep ~
Vol. 3 – To the Future
Pengarang: Tomoe Kanemaki
Perencana Original: Tetsuya Nomura

Story 10 – Dark Memory Part 1

~4 Tahun Lalu~

Ini adalah hal-hal yang terjadi tidak jauh dari Kuburan Keyblade.

Ventus dikelilingi Heartless.

“Aku takut”

“Tolong hentikan, Master! Aku belum cukup kuat!” Ventus berteriak ketakutan, menggengam Keyblade di tangannya. Dia dibawah pengawasan  Master Xehanort, yang berdiri di atas tebing.

“Ini mustahil. Aku tidak bisa menang.”

Para Heartless mendekat ke arah Ventus. Noda-noda hitam tampak bermunculan di tanah dan dari mereka beberapa Heartless baru mulai bermunculan.

“Kenapa aku harus melakukan ini padahal sudah jelas aku tidak bisa melakukannya?”

Tangannya yang menggenggam Keyblade sudah basah, begitulah bagaimana dia berkeringat dalam ketakutannya.

“Bukan, itu karens kau berusaha menahannya. Biarkan impuls kegelapanmu bangun di lubang hatimu. Keluarkan mereka, di sini dan sekarang! Tajamkan ketakutanmu menjadi amarah! Kau harus!” Xehanort berteriak pada Ventus.

“Aku tidak mengerti apa yang kau mau dariku. Aku tidak bisa.”

“Aku tidak bisa ‘menajamkan ketakutanku menjadi amarah’. Aku hanya takut, itu saja.”

“Kalau kau tidak biarkan badai dalam dirimu berjalan dengan sendirinya, badai itu akan memusnahkanmu dari muka bumi, jangan membuat kesalahan! Lakukan! Rangkulah kegelapan! Ciptakan X-Blade untuk Master-mu!”

“Aku tidak akan menang. Mustahil.”

Seekor Heartless melompat ke Ventus. Ventus nyaris berhasil menangkis serangannya. Tapi itu tampaknya hanyalah awalnya, karena tiba-tiba semua Heartless mulai menyerang Ventus sekaligus. Seperti sebuah massa hitam yang besar, Heartless melemparkan diri mereka ke arah Ventus dan menempel padanya, menyebabkan wujudnya ditelan bawah kerumunan mereka.

“Aku menyerah. Tak ada harapan.”

“Ventus!” Xehanort berteriak, melompat turun dari tebing dan memanggil Keyblade nya. Dengan itu, ia memukul dan mengalahkan salah satu Heartless. Heartless, memahami bahwa bukan Ventus, tapi Xehanort adalah bahaya yang lebih besar bagi mereka, segera meninggalkan anak itu dan gantinya berkerumun di sekitar Xehanort. Akan tetapi, Ventus sudah kehilangan kesadaran dan sekarang ambruk di lantai dengan suara kusam. Saat matanya terpejam, Xehanort lanjut mengalahkan semua Heartless. Setelah mengalahkan seluruh kerumunan mereka, Xehanort melangkah ke Ventus.

“Begitu? Kau lebih memilih mati daripada menggunakan kekuatanmu? Bibit tak berguna.”

Dengan kasar, Xehanort menendang Ventus dan menggulingkannya, menyebabkan dia menghadapnya. Dan kemudian, setelah menatap anak tersebut untuk sesaat, Xehanort tampaknya telah mengambil keputusan dan ia memanggil Keyblade-nya untuk kedua kalinya, untuk mendorongnya tepat ke dada Ventus. Sebuah cahaya terang mulai menembak keluar dari luka dan mata Ventus ‘bentak terbuka.

“Kalau perlu … Aku akan mengambil kegelapan dari dalam dirimu sendiri.”

Sesuatu yang gelap gulita naik dari dalam cahaya dada Ventus. Membentuk menjadi bola, seperti telur, dan dalam telur, sesuatu mulai mengambil bentuk. Seorang anak muda, berpakaian hitam dan memakai topeng, muncul. Dan saat hal ini terjadi, semua cahaya memudar dari mata Ventus. Anak laki-laki bertopeng perlahan mulai meregangkan anggota tubuhnya dan turun ke tanah. Dia menatap Xehanort.

Dia tidak tahu orang macam apa yang berada di hadapannya. Atau apa itu yang berbaring di sana di tanah dengan mengulurkan kaki.

Tapi itu membuatnya sedikit sedih.

“Kenapa aku sedih?”

“Makhluk hampa dari belahan Ventus… nama Vanitas akan kuberikan padamu.”

“Ya, Master.”

Ketika anak laki-laki bertopeng, Vanitas, menjawab, Xehanort tertawa,

“Kalau begitu … aku akan pergi sekarang.”

“Kau akan pergi kemana?”

“Untuk membawa Ventus ke mana ia bisa tidur selamanya. Aku akan segera kembali. Untuk sementara silakan lakukan sesukamu. ”

Xehanort mengangkat Ventus yang tidak bergerak, membawanya dan meninggalkan tempat begitu saja. Angin kencang bertiup di sekitar tempat. Linglung, Vanitas menatap tanah. Lalu, ia menatap langit yang suram, kusam. Bergeming, ia menatap tangannya, sampai ia mengepalkannya menjadi tinju yang kuat. Namun kunci besar lain muncul di tangannya. Menyadari bahwa ini adalah kekuatannya, yang bisa ia gunakan, Vanitas tertawa di bawah topengnya.

“Aku takut.”

To be Continued in part 2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s